Kamis, 01 Desember 2016

Mengenang Kembali Perjalanan Sejarah Tanah Abang


Jakarta – Tanah Abang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Lokasi yang berada di Jakarta Pusat menjadikannya lokasi strategis untuk perdagangan. Tempat yang sudah berdiri ratusan tahun ini mempunyai sejarah yang menarik untuk ditelusuri.

Kawasan Tanah Abang saat ini
Asal usul nama Tanah Abang menurut Zaenuddin HM, dalam buku karyanya berjudul “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012, terdapat beberapa versi yang saat ini beredar di masyarakat.

Versi pertama, hingga akhir abad ke-19, kawasan tersebut bernama Nabang. Nabang merupakan salah satu jenis pohon yang banyak tumbuh di sekitar kawasan tersebut. Pada saat itu, kondektur angkutan umum sering meneriakkan “Ayo Nabang, Nabang”. Kemudian pada zaman Hindia Belanda, lokasi tersebut diganti menjadi De Nabang. Kata “De” sendiri harus ditambahkan dalam penulisan formal saat itu.

Tetapi penduduk sekitar kawasan itu sulit menyebutkannya sehingga mereka memplesetkannya menjadi Tenabang. Karena Tenabang tersebut, sekitar tahun 1980, perusahaan kereta api mencoba membenarkan kata tersebut dengan menggantinya menjadi Tanah Abang.
 
Stasiun Tanah Abang
Versi kedua yaitu dihubungkan dengan penyerangan Kota Batavia oleh pasukan Mataram pada tahun 1628. Serangan diarahkan melalui selatan, yaitu daerah Tanah Abang. Tempat tersebut pilih menjadi pangkalan karena ada Kali Krukut di sekitarnya dan kondisi tanah yang berupa bukit. Mereka menyebutnya dengan menggunakan Bahasa Jawa yaitu “Tanah Abang” yang berarti tanahnya yang berwarna merah.
 
Kali Krukut
Versi ketiga menyebutkan bahwa Tanah Abang berasal dari kata “abang dan adik”. Sang adik meminta abangnya tersebut untuk mendirikan rumah. Sehingga kawasan tersebut sering disebut sebagai “Tanah Abang”.

Ditambahkan dari http://jakarta.bisnis.com/read/20150225/387/406520/sejarah-jakarta-asal-usul-nama-tanah-abang, bahwa nama Tanah Abang sendiri mulai dikenal banyak orang sejak 1968 ketika seorang kapten China bernama Phoa Bhingam pergi ke pemerintah Belanda untuk meminta izin membuat terusan.

“Saya tidak tau tentang sejarah Tanah Abang, tetapi setelah membaca sejarah tersebut, saya lebih tertarik dengan versi yang pertama”, ucap Wenny, salah satu mahasiswa yang pernah melewati kawasan Tanah Abang.

Kawasan yang menjadi salah satu tempat bersejarah di Indonesia ini tentu perlu dilestarikan. Selain mendukung di bidang perdagangan, Tanah Abang juga menjadi salah satu tujuan wisata belanja yang dapat menarik para wisatawan. Pihak masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menjaganya.


Claudia Agettha Sari - 14150041 - 3 PIK 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar