Jakarta – Tanah Abang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara. Lokasi yang berada di Jakarta Pusat menjadikannya lokasi strategis untuk perdagangan. Tempat yang sudah berdiri ratusan tahun ini mempunyai sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
![]() |
| Kawasan Tanah Abang saat ini |
Asal usul nama
Tanah Abang menurut Zaenuddin HM, dalam buku karyanya berjudul “212 Asal-Usul
Djakarta Tempo Doeloe,” yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012, terdapat
beberapa versi yang saat ini beredar di masyarakat.
Versi pertama,
hingga akhir abad ke-19, kawasan tersebut bernama Nabang. Nabang merupakan
salah satu jenis pohon yang banyak tumbuh di sekitar kawasan tersebut. Pada
saat itu, kondektur angkutan umum sering meneriakkan “Ayo Nabang, Nabang”.
Kemudian pada zaman Hindia Belanda, lokasi tersebut diganti menjadi De Nabang.
Kata “De” sendiri harus ditambahkan dalam penulisan formal saat itu.
Tetapi penduduk
sekitar kawasan itu sulit menyebutkannya sehingga mereka memplesetkannya
menjadi Tenabang. Karena Tenabang tersebut, sekitar tahun 1980, perusahaan
kereta api mencoba membenarkan kata tersebut dengan menggantinya menjadi Tanah
Abang.
Versi kedua
yaitu dihubungkan dengan penyerangan Kota Batavia oleh pasukan Mataram pada
tahun 1628. Serangan diarahkan melalui selatan, yaitu daerah Tanah Abang. Tempat
tersebut pilih menjadi pangkalan karena ada Kali Krukut di sekitarnya dan kondisi
tanah yang berupa bukit. Mereka menyebutnya dengan menggunakan Bahasa Jawa
yaitu “Tanah Abang” yang berarti tanahnya yang berwarna merah.
Versi ketiga
menyebutkan bahwa Tanah Abang berasal dari kata “abang dan adik”. Sang adik
meminta abangnya tersebut untuk mendirikan rumah. Sehingga kawasan tersebut sering
disebut sebagai “Tanah Abang”.
Ditambahkan dari
http://jakarta.bisnis.com/read/20150225/387/406520/sejarah-jakarta-asal-usul-nama-tanah-abang,
bahwa nama Tanah Abang sendiri mulai dikenal banyak orang sejak 1968 ketika
seorang kapten China bernama Phoa Bhingam pergi ke pemerintah Belanda untuk
meminta izin membuat terusan.
“Saya tidak tau
tentang sejarah Tanah Abang, tetapi setelah membaca sejarah tersebut, saya
lebih tertarik dengan versi yang pertama”, ucap Wenny, salah satu mahasiswa
yang pernah melewati kawasan Tanah Abang.
Kawasan yang
menjadi salah satu tempat bersejarah di Indonesia ini tentu perlu dilestarikan.
Selain mendukung di bidang perdagangan, Tanah Abang juga menjadi salah satu
tujuan wisata belanja yang dapat menarik para wisatawan. Pihak masyarakat dan
pemerintah dapat bekerja sama untuk menjaganya.
Claudia Agettha Sari - 14150041 - 3 PIK 5
Claudia Agettha Sari - 14150041 - 3 PIK 5



Tidak ada komentar:
Posting Komentar