Kamis, 17 Mei 2018

TUGAS LATIHAN 12



A.   Radio dan TV: Konvensional VS Online (Streaming)

1.      Apa keunggulan dan kelemahan radio streaming dibanding radio konvensional?
·         Keunggulan:
Ø  Tidak ada batasan geografi jadi jangkauan lebih luas
Ø  Hasil siaran lebih bagus
Ø  Lebih praktis karena bisa didengar dimana saja (jika ada internet dan alat)
Ø  Dapat didengar kapan saja
Ø  Beberapa stasiun radio menyediakan fitur mendengar siaran radio yang sudah lewat
Ø  Bisa direkam
·         Kelemahan:
Ø  Harus menggunakan jaringan internet
Ø  Alat yang digunakan harus memadai
Ø  Tidak di semua tempat sinyal bagus

2.      Apa keunggulan dan kelemahan radio konvensional?
·         Keunggulan:
Ø  Tidak ada keahlian khusus menggunakan radio konvensional
Ø  Tidak perlu menggunakan internet
Ø  Tidak akan delay atau tersedat karena sinyal
·         Kelemahan:
Ø  Hanya bisa mendengarkan sekali
Ø  Butuh alat transmisi dan perlengkapannya seperti antena
Ø  Bisa ada gangguan sinyal

3.      Apa keunggulan dan kelemahan TV konvensional?
·         Keunggulan:
Ø  Tidak ada batasan geografi jadi jangkauan lebih luas
Ø  Hasil siaran lebih bagus
Ø  Dapat diakses kapan saja
Ø  Beberapa menyediakan fitur untuk memutar siaran yang sudah lewat
Ø  Bisa direkam
Ø  Saluran/channel yang disediakan lebih banyak
·         Kelemahan:
Ø  Harus menggunakan jaringan internet
Ø  Alat yang digunakan harus memadai
Ø  Tidak di semua tempat sinyal bagus
Ø  Yang berbayar biasanya mahal

4.      Apa keunggulan dan kelemahan TV streaming?
·         Keunggulan:
Ø  Tidak ada keahlian khusus menggunakan TV konvensional
Ø  Tidak perlu menggunakan internet
Ø  Tidak akan delay atau tersedat karena sinyal
·         Kelemahan:
Ø  Hanya bisa ditonton sekali
Ø  Butuh alat transmisi dan perlengkapannya seperti antena
Ø  Bisa ada gangguan sinyal
Ø  Terbatas pada beberapa saluran/channel saja

B.   Mivo TV

1.      Buka saluran Mivo TV dan jelaskan apa keunggulan Mivo TV dengan TV streaming lain yang merupakan perluasan dari stasiun TV konvensional.
·         Dapat diakses secara gratis
·         Bisa diakses lewat aplikasi maupun website
·         Dapat mengakses dengan gambar kualitas bagus
·         Lebih banyak pilihan channel (71 channel)
·         Ada kolom trending
·         Terdapat pilihan channel dari media cetak online (contoh Tabloid Bintang)
·         Bisa mengakses konten-konten siaran yang sudah lewat
·         Bisa difollow sehingga bisa ada pemberitahuan jika ada konten terbaru
·         Bisa memberikan feedback atau komentar lewat fitur chat
·         Bisa dishare atau disebarkan kepada orang lain melalui Facebook

2.      Sebutkan rubrik-rubrik acara apa saja yang ditayangkan Mivo TV dan produk-produk apa yang diproduksi Mivo TV?
·         Rubrik yang ditayangkan : Mivo TV dan Headline
·         Produk yang diproduksi Mivo TV: entertain, news, feature,

3.      Sebutkan karakteristik video klip pemberitaan yang ditayangkan Mivo TV, dibanding saluran-saluran TV lainnya.
·         Ada tayangan iklan ketika ingin membuka konten
·         Judul konten dibuat agak dramatis/sensasi
·         Konten beragam
·         Terdapat keterangan waktu konten
·         Terdapat keterangan jumlah penonton

Claudia Agettha Sari
14150041

Kamis, 03 Mei 2018

Tugas Latihan 11



Kerangka
·         Ide : Film lokal yang tayang di luar negeri dan mendapat penghargaan tapi tidak boleh tayang di Indonesia
·         PEG : beberapa penghargaan yang pernah diraih dari perfilman Indonesia dan yang go internasional
·         Tema : seharusnya penayangan film-film Indonesia yang bertema kontroversial seharusnya tidak dilarang semuanya. Justru dapat didukung.

·         Pendahuluan
1.      Perkembangan film di Indonesia
2.      Beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh perfilman Indonesia

·         Pembahasan
1.      Beberapa penjelasan mengenai film lokal yang tayang diluar negeri tapi tidak boleh tayang di Indonesia
2.      Kemungkinan alasan mengapa tidak boleh tayang

·         Penutup
1.      Bagaimana seharusnya masyarakat dan pemerintah terhadap hal tersebut

Artikel Opini
Masa Kelam Perfilman Indonesia

Perkembangan perfilman di Indonesia pernah mengalami naik surut. Pada tahun 1990 hingga 1990an menjadi masa terpuruk karena perfilman Indonesia tidak mampu bersaing dengan film-film impor. Tetapi, perfilman Indonesia terus berjuang dan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penghargaan-penghargaan yang diperoleh oleh perfilman Indonesia. Film yang mendapatkan penghargaan terbaik di FFI adalah film karya Usmar Ismail yang berjudul Jam Malam yang mengkritik tentang mantan pejuang pasca kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya penghargaan nasional, tetapi perfilman Indonesia juga mampu meraih penghargaan Internasional. Salahs atu contoh film karya anak bangsa yaitu film Battle of Surabaya yang memenangkan kategori Film Animasi Terbaik dalam Milan International Filmmaker Festival, Italia.

Tetapi salah satu masa kelam, terdapat beberapa film lokal mampu tayang di kancah dunia dan memperoleh berbagai penghargaan Internasional justru tidak boleh ditayangkan di layar perfilman Indonesia. Film tersebut berjudul Lady Terminator (1989), Merdeka 17085 (2001), Act of Killing (2012), Look of Silence (2015), dan Something in the Way (2013).

Semua film tersebut memang memiliki tema cerita yang kontroversial dan dinilai tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Salah satu contoh yaitu Act Of Killing yang menceritakan sisi lain dari kehidupan pascatragedi G30S/PKI. Banyak dari masyarakat yang dianggap PKI dan dihukum tanpa pengadilan oleh sebuah ormas di Medan, Sumatera Utara. Dan terdapat beberapa tragedi yang menggambarkan keadaan pada saat itu.

Film ini mendapat beberapa penghargaan yaitu penghargaan BAFTA untuk kategori film dokumenter terbaik, Gotham Award untuk kategori film dokumenter terbaik, penghargaan film Eropa untuk kategori film dokumenter terbaik, penghargaan National Society, dan Bodil Special Award.

Film yang menceritakan perkembangan sejarah di Indonesia ini seharusnya dapat menjadi film yang membanggakan bagi Indonesia. Bagaimana perjuangan para masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Walaupun dapat mengundang berbagai kecaman, tetapi seharusnya perfilman Indonesia tetap didukung agar bisa maju.

Pemerintah seharusnya mendukung dan membuat undang-undang untuk melindungi konten film dan para pelaku film. Dan tentu masyarakat harus membuka pikirannya agar tidak terbatas pada hal-hal seperti itu. Mari memajukan perfilman Indonesia.

Sabtu, 28 April 2018

TUGAS LATIHAN 10

Claudia Agettha Sari
14150041

Mengenal Pelaku Film dari Dekat

Tahun ketiga Communication Summit yang diadakan oleh prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia ditutup dengan istimewa. Acara Seminar Nasional adalah akhir dari rangkaian acara yang sudah berlangsung dari 20-26 April. Dengan mengangkat tema “Film Indonesia Layaknya Mahakarya”, acara ini mengundang pelaku film di Indonesia, yaitu aktor Brandon Salim dan Sutradara Ginanti Rona.

Pembicara Brandon Salim dan Ginanti Rona
Ginanti Rona adalah seorang sutradara perempuan yang memulai kariernya di film Rumah Dara pada 2010. Awalnya ia hanya menjadi asisten sutradara. Karena kemampuannya dan keahliannya, ia dikenalkan kepada beberapa sutradara film dan akhirnya diajak untuk menjadi asisten sutradara dalam film The Raid dan The Raid 2. Hal tersebut yang membuat ia mempunya prinsip bahwa work ethics dan relasi itu penting.

“Awalnya harus punya passion untuk jadi film maker”, ungkap Ginanti Rona. Berawal dari menonton film Jurrasic Park bersama orang tuanya di Aceh, ia mulai memiliki rasa ingin tahu bagaimana cara pembuatan film. Itulah yang memutuskannya untuk berkuliah di Institut Kesenian Jakarta jurusan film dan televisi.

Menurutnya, sebuah film tidak hanya terpaku pada genre, tetapi yang paling penting adalah menciptakan sebuah karakter unik yang ada di dalam sebuah film. Berawal dari ide yang dibuat menjadi sinopsis lalu dikembangkan menjadi skenario. Tentu harus ada riset dan tujuan yang kuat untuk membuatnya.

Seiring perkembangan waktu, Ginanti Rona sudah menjadi sutradara untuk film Midnight Show yang dirilis pada 14 Januari 2016 lalu. Dan saat ini, ia sedang menggarap film Anak Hoki yang menceritakan tentang perjalanan hidup dari Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Selain Ginanti Rona, aktor Brandon Salim juga hadir menjadi pembicara untuk Seminar Nasional ini. Mengawali karir di bidang musik, tidak membatasi dirinya untuk terjun di bidang peran. Dengan dorongan orang tua, ia berusaha untuk mencoba bidang tersebut. Heartbeat adalah film pertama yang dibintangi oleh Brandon.

“Kalau mau sukses harus fleksibel”, ujar Brandon. Menurutnya, multitalent adalah salah satu kunci dari keberhasilan. Kita harus bisa menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Brandon mengungkapkan bahwa ia dapat menjadi penyanyi, MC, dan aktor. Itulah yang membuatnya semakin terkenal dan dapat bertahan di bidang tersebut.

Dengan dipimpin oleh moderator dari Dosen Univeritas Bunda Mulia, Nico Setiawan Susilo dan Fanty Pratiwi Meita, kegiatan seminar ini menjadi semakin menarik. Selain itu, acara juga diisi oleh beberapa UKM seperti UKM Vou dan Dance yang menambah kemeriahan acara penutupan Commit yang diadakan di TUGA UBM.

Kemudian acara ditutup dengan penyerahan token of appreciation kepada para pembicara dan moderator serta diikuti dengan pengumuman pemenang lomba yang sudah dilaksanakan sebelumnya yaitu dari kompetisi radio yang diadakan oleh Klub Biems Radio dan Future Newscaster yang diadakan oleh Newscaster Club.

Penyerahan Token of Appreciation