Kamis, 03 Mei 2018

Tugas Latihan 11



Kerangka
·         Ide : Film lokal yang tayang di luar negeri dan mendapat penghargaan tapi tidak boleh tayang di Indonesia
·         PEG : beberapa penghargaan yang pernah diraih dari perfilman Indonesia dan yang go internasional
·         Tema : seharusnya penayangan film-film Indonesia yang bertema kontroversial seharusnya tidak dilarang semuanya. Justru dapat didukung.

·         Pendahuluan
1.      Perkembangan film di Indonesia
2.      Beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh perfilman Indonesia

·         Pembahasan
1.      Beberapa penjelasan mengenai film lokal yang tayang diluar negeri tapi tidak boleh tayang di Indonesia
2.      Kemungkinan alasan mengapa tidak boleh tayang

·         Penutup
1.      Bagaimana seharusnya masyarakat dan pemerintah terhadap hal tersebut

Artikel Opini
Masa Kelam Perfilman Indonesia

Perkembangan perfilman di Indonesia pernah mengalami naik surut. Pada tahun 1990 hingga 1990an menjadi masa terpuruk karena perfilman Indonesia tidak mampu bersaing dengan film-film impor. Tetapi, perfilman Indonesia terus berjuang dan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penghargaan-penghargaan yang diperoleh oleh perfilman Indonesia. Film yang mendapatkan penghargaan terbaik di FFI adalah film karya Usmar Ismail yang berjudul Jam Malam yang mengkritik tentang mantan pejuang pasca kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya penghargaan nasional, tetapi perfilman Indonesia juga mampu meraih penghargaan Internasional. Salahs atu contoh film karya anak bangsa yaitu film Battle of Surabaya yang memenangkan kategori Film Animasi Terbaik dalam Milan International Filmmaker Festival, Italia.

Tetapi salah satu masa kelam, terdapat beberapa film lokal mampu tayang di kancah dunia dan memperoleh berbagai penghargaan Internasional justru tidak boleh ditayangkan di layar perfilman Indonesia. Film tersebut berjudul Lady Terminator (1989), Merdeka 17085 (2001), Act of Killing (2012), Look of Silence (2015), dan Something in the Way (2013).

Semua film tersebut memang memiliki tema cerita yang kontroversial dan dinilai tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Salah satu contoh yaitu Act Of Killing yang menceritakan sisi lain dari kehidupan pascatragedi G30S/PKI. Banyak dari masyarakat yang dianggap PKI dan dihukum tanpa pengadilan oleh sebuah ormas di Medan, Sumatera Utara. Dan terdapat beberapa tragedi yang menggambarkan keadaan pada saat itu.

Film ini mendapat beberapa penghargaan yaitu penghargaan BAFTA untuk kategori film dokumenter terbaik, Gotham Award untuk kategori film dokumenter terbaik, penghargaan film Eropa untuk kategori film dokumenter terbaik, penghargaan National Society, dan Bodil Special Award.

Film yang menceritakan perkembangan sejarah di Indonesia ini seharusnya dapat menjadi film yang membanggakan bagi Indonesia. Bagaimana perjuangan para masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Walaupun dapat mengundang berbagai kecaman, tetapi seharusnya perfilman Indonesia tetap didukung agar bisa maju.

Pemerintah seharusnya mendukung dan membuat undang-undang untuk melindungi konten film dan para pelaku film. Dan tentu masyarakat harus membuka pikirannya agar tidak terbatas pada hal-hal seperti itu. Mari memajukan perfilman Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar